Mengapa Uji pH dan TSS Penting untuk Air Limbah
Uji pH dan uji TSS (Total Suspended Solids) merupakan dua pengujian dasar untuk kontrol IPAL. pH menunjukkan kondisi asam–basa, sedangkan TSS menggambarkan beban padatan tersuspensi yang memengaruhi kekeruhan serta efisiensi unit pemisahan. Pemantauan rutin membantu menjaga stabilitas proses dan menurunkan risiko ketidaksesuaian baku mutu.
Dengan memantau kedua parameter ini secara rutin, perusahaan dapat menjaga kestabilan proses, meningkatkan efisiensi pengolahan, dan memastikan hasil olahan limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan.
Selain itu, nilai pH dan TSS juga berfungsi sebagai indikator dini terhadap perubahan proses. Jika nilai pH menyimpang atau TSS meningkat, tim operasional dapat segera melakukan tindakan korektif untuk mencegah gangguan lebih lanjut.

Regulasi dan Standar Uji pH dan TSS (Update Permen 11/2025)
Untuk air limbah domestik, acuan utama adalah Permen LH/BPLH No. 11 Tahun 2025 yang membedakan baku mutu berdasarkan jenis air limbah domestik dan kegiatan pelepasan (ke media air atau ke drainase/irigasi), serta klasifikasi volume (m³/hari).
1) Nonkakus atau gabungan kakus–nonkakus dibuang ke media air
Pada Lampiran I, parameter pH dan TSS dicantumkan sebagai berikut:
- pH: 6–9 (diukur langsung pada titik penaatan)
- TSS:
- 30 mg/L untuk x > 50 m³/hari
- 50 mg/L untuk 3 < x ≤ 50 m³/hari
- Catatan: pada tabel ini, kolom x < 3 untuk TSS tidak dicantumkan—untuk kondisi tersebut gunakan rujukan izin/persetujuan teknis atau ketentuan yang berlaku di lokasi.
2) Nonkakus atau gabungan kakus–nonkakus dibuang ke drainase/irigasi
Untuk skenario pembuangan ke drainase atau saluran irigasi, Lampiran I mencantumkan:
- pH: 6–9 (diukur langsung pada titik penaatan)
- TSS: 30 mg/L
3) Bagaimana untuk kegiatan industri?
Untuk air limbah industri/non-domestik, baku mutu bersifat sektoral dan mengikuti regulasi serta persyaratan izin/persetujuan teknis yang berlaku. Karena angka berbeda antar sektor, hindari menulis satu “angka umum” (mis. 50–100 mg/L) tanpa menyebut sektor dan dasar rujukannya.
Proses dan Metode Uji pH dan TSS
Agar hasil uji kredibel, pengambilan sampel dan analisis harus mengikuti prosedur baku (SOP sampling, kalibrasi alat, dan dokumentasi).
Pengukuran pH sebaiknya dilakukan segera setelah sampel diambil karena pH mudah berubah akibat reaksi kimia/biologis. Untuk kepatuhan, pH dinilai pada titik penaatan sesuai ketentuan Permen.
Uji pH
Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter terkalibrasi (buffer), idealnya sesegera mungkin setelah sampel diambil, terutama untuk sampel yang mudah berubah.
Uji TSS (gravimetri)
Uji TSS umumnya menggunakan prinsip gravimetri: sampel disaring dengan filter pra-timbang, lalu filter dikeringkan pada 103–105°C sampai berat konstan. Selisih massa dihitung dan dinyatakan sebagai mg/L.
Laboratorium Ekalab yang terakreditasi KAN ISO/IEC 17025:2017 memastikan setiap tahap uji memenuhi prinsip ketertelusuran dan akurasi tinggi.
Interpretasi Hasil dan Tindakan Korektif
Jika pH tidak sesuai
Jika pH < 6 atau > 9, lakukan penelusuran sumber beban (bahan kimia proses, CIP, limbah pembersih) dan koreksi terukur:
- netralisasi bertahap sesuai SOP (kontrol laju dosing),
- cek alkalinitas/buffer (krusial untuk proses biologis),
- pastikan mixing memadai agar tidak ada zona pH ekstrem.
Jika TSS tinggi
TSS tinggi biasanya berarti pemisahan padatan tidak efektif atau ada lonjakan beban. Tindakan yang umum efektif:
perkuat equalization dan kontrol debit agar beban lebih stabil.
optimasi koagulasi/flokulasi (jenis & dosis koagulan/polimer serta pH operasi),
audit sedimentasi/clarifier (short-circuiting, sludge blanket, overflow rate, jadwal buang lumpur),
evaluasi filtrasi/DAF (media, backwash, tekanan diferensial, indikasi kebocoran),
Dampak Lingkungan Bila pH dan TSS Tidak Terkendali
pH ekstrem dan TSS tinggi dapat menimbulkan berbagai dampak, antara lain:
- Gangguan proses biologis di IPAL.
- Penurunan kadar oksigen terlarut (DO) di perairan.
- Peningkatan kekeruhan dan turunnya kualitas air penerima.
- Potensi sanksi administrasi bagi pelaku usaha akibat ketidaksesuaian hasil uji.
Oleh karena itu, pengujian pH dan TSS secara berkala bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga bagian penting dari tanggung jawab lingkungan perusahaan.
Keunggulan Ekalab dalam Uji pH dan TSS
Sebagai laboratorium lingkungan terakreditasi KAN ISO 17025, Ekalab menyediakan layanan pengujian pH dan TSS dengan keunggulan:
- Terakreditasi KAN ISO/IEC 17025:2017 – hasil sah dan diakui secara nasional.
- Metode uji SNI dan APHA – menjamin presisi hasil.
- Pelaporan digital dan tepat waktu – hasil dikirim dalam format PDF resmi yang mudah digunakan untuk pelaporan lingkungan.
Ekalab mendukung perusahaan dalam mencapai efisiensi proses dan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan terbaru.
FAQ: Pertanyaan Umum
Seberapa sering uji pH dan TSS dilakukan?
Mengacu pada izin dan dinamika proses. Praktik umum 1–3 bulan sekali untuk rutin, lebih sering saat proses tidak stabil atau setelah perubahan operasi.
Apakah pH dan TSS wajib untuk domestik?
Untuk pembuangan domestik, Permen LH/BPLH 11/2025 mencantumkan pH dan TSS sebagai parameter baku mutu pada skenario tertentu.
Apa beda TSS dan TDS?
TSS adalah padatan tersuspensi (tertahan filter). TDS adalah padatan terlarut (lolos filter). Dampak proses dan kontrolnya berbeda.
Mengapa TSS tinggi padahal COD turun?
COD bisa turun karena penguraian/oksidasi organik, namun TSS tetap tinggi bila unit pemisahan padatan (sedimentasi/filtrasi) bermasalah.
Butuh uji pH dan TSS untuk pemantauan IPAL atau pelaporan lingkungan?
Hubungi Kami
Laboratorium Lingkungan Ekalab
Terakreditasi KAN ISO/IEC 17025:2017